Solidaritas Tidak Selamanya Positif

Solidaritas tidak selamanya positif

Solidaritas pada hakikatnya tak lepas dari status manusia sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri, sehingga memerlukan orang lain yang ada di sekitarnya. Ia akan hidup dalam kelompok yang ada di dalam lingkungan tersebut.

Kadang terjadi, anggota sebuah kelompok melakukan sesuatu hal bukan murni berasal dari motivasi dalam dirinya sendiri. Ia melakukannya karena solider dengan kelompok di mana ia bergabung. Jika tidak melakukannya, khawatir akan dicap tidak setia kawan atau tidak memiliki solidaritas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), solidaritas artinya sifat solider, sifat satu rasa (senasib dan sebagainya), atau perasaan setia kawan. Solidaritas biasanya menjadi nilai yang kerap digunakan dalam sebuah kelompok, komunitas, atau organisasi.

Contoh positif dari solidaritas banyak dijumpai di masyarakat. Misalnya gotong-royong untuk mengerjakan sesuatu untuk kepentingan bersama. Contohnya kerja bakti membersihkan selokan, membuat gapura kampung, hingga penyemprotan disinfektan Covid-19.

Solidaritas dalam film Dilan-Milea

Namun, solidaritas tak selamanya bersifat positif. Contohnya adalah solidaritas geng motor. Aksi yang dilakukan oleh geng motor kerap mengganggu masyarakat, seperti pekelahian, perampokan, dan sebagainya. Bahkan tak jarang aksi tersebut berujung pada hilangnya nyawa seseorang.

Dalam film, solidaritas negatif ini bisa kita saksikan pada trilogi Dilan dan Milea. Film-film dalam trilogi ini yaitu Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea: Suara dari Dilan. Ketiga film yang populer di kalangan  remaja ini diangkat dari novel karya Pidi Baiq. Pemain utamanya yaitu Iqbaal Ramadhan yang memerankan Dilan dan Vanesha Prescilla sebagai Milea.

Film Dilan 1990 berkisah tentang awal mula Dilan berkenalan dan berpacaran Milea. Film ini banyak menyuguhkan keceriaan dan kelucuan kisah cinta anak SMA. Rayuan gombal Dilan kepada Milea seperti “Rindu itu berat, kamu tidak akan kuat. Biar aku saja” menjadi hal yang akan diingat oleh penonton.

Film sekuelnya, Dilan 1991 mengisahkan konflik yang terjadi antara kedua remaja tersebut. Dilan 1991 menghadirkan suasana yang lebih tegang dari film sebelumnya, yang diwarnai adegan-adegan perselisihan antara Dilan dan Milea, hingga akhirnya hubungan mereka berakhir.

Penyebab putusnya hubungan tersebut yaitu Milea tidak setuju Dilan berada dalam geng motor. Diceritakan, ada salah satu anggota geng motor yang meninggal dunia akibat peristiwa pengeroyokan oleh geng motor lainnya.

Film ketiga Milea: Suara dari Dilan, pemirsa akan dibawa flashback kepada kedua film sebelumnya. Setelah hubungannya dengan Milea putus, Dilan melanjutkan kuliah di Yogya. Ayah Dilan dikisahkan meninggal dunia dan Milea datang ke pemakamannya. Dilan kemudian diterima magang di sebuah perusahaan di Jakarta. Acara reuni SMA di Bandung mempertemukan kembali Dilan-Milea, meski keduanya tak lagi punya hubungan yang istimewa.

Banyak penonton yang mungkin berandai-andai seperti saya. Seandainya saja Dilan tidak bergabung dalam geng motor, tentulah Milea tidak memutuskan hubungan mereka. Keduanya mungkin akan melanjutkan hubungan hingga ke pelaminan.

Kemudian, kisah-kisah romantis menghiasi kehidupan keluarga mereka. Traveling bareng ke tempat-tempat yang indah, atau makan di restoran berdua. Bisa jadi Dilan akan menggoda Milea, apakah Milea bisa mengupas kulit salak atau tidak. Namanya juga berandai-andai, pasti maunya yang indah-indah saja yang terjadi.

Geng Motor

Fenomena geng motor tidak hanya terjadi di film saja. Geng motor tidak hanya ada di Bandung atau Jakarta, tapi juga ada di kota-kota di Indonesia. Jumlahnya cukup banyak, tak hanya satu atau dua saja.

Geng motor memiliki reputasi yang tidak baik. Solidaritas negatif geng motor yang biasanya beranggotakan para remaja ini banyak merugikan masyarakat. Mulai dari kebut-kebutan di jalan raya, tawuran, merampas motor pengendara lain, dan aksi kekerasan lainnya.

Masa remaja yang identik dengan pencarian jati diri, kadang membawa remaja masuk dalam komunitas yang tidak baik, seperti geng motor. Padahal, untuk menjadi anggota tidak mudah. Calon anggota harus mengikuti penggojlogan, dengan diuji ketahanan fisiknya. Ditendang, diinjak, ditampar adalah yang hal lumrah terjadi saat rekrutmen.

Untuk mencegah aksi-aksi negatif yang dilakukan oleh geng motor, semua pihak perlu bekerja sama. Mulai dari keluarga (orang tua), masyarakat, kepolisian, pemerintah, dan pihak terkait lainnya. Kita tentu tak ingin aksi negatif geng motor terus berlanjut dan membawa akibat yang tidak baik: rusaknya fasilitas umum, terganggunya keamanan di jalan raya akibat balapan liar, hingga putusnya hubungan Dilan dan Milea.

Nah, mari kita periksa komunitas di mana kita berada. Apakah solidaritas yang ada di dalamnya positif atau negatif?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *