Mengenal Sandwich Generation

Sandwich Generation

Kita kadang menjumpai teman kerja yang sulit untuk diajak nongkrong sepulang kerja. Padahal nongkrongnya sekadar minum kopi seharga 10-20 ribu rupiah. Tidak mengeluarkan ongkos yang besar, menurut ukuran kita. Jika menjumpai teman seperti itu, kita jangan terburu-buru menilainya sebagai orang tidak gaul atau pelit. Bisa jadi ia termasuk sandwich generation.

Jika kita lihat arti katanya, sandwich adalah daging, sosis, atau sayuran yang yang diapit oleh dua potong roti. Nah, orang yang termasuk dalam kategori sandwich generation juga seperti itu gambarannya. Ia harus menanggung biaya hidup generasi di atas maupun di bawahnya, berada dalam keadaan terjepit.

Awal Mula Istilah Sandwich Generation

Istilah generasi sandwich ini diperkenalkan oleh Dorothy Miller dan Elaine Brody pada tahun 1981 melalui jurnal yang berjudul The ‘Sandwich’ Generation: Adult Children of The Aging. Pada awalnya istilah itu merujuk pada kaum wanita umur 30-an sampai 40-an yang harus merawat anak-anak dan juga  memenuhi kebutuhan orangtua mereka, dan orang lain di sekitar mereka.

Namun, pada perkembangannya fenomena ini tak hanya dirasakan oleh kaum wanita saja, tapi juga kaum pria. Cakupannya juga meluas, mulai dari umur 20-an sampai 60-an. Demografinya di tiap-tiap negara bisa saja berbeda. Namun secara konsep istilah ini masih sama, yaitu generasi yang “terjebak” di tengah dan harus menanggung generasi di atas (orang tua, paman/bibi, kakek/nenak) dan generasi di bawahnya (anak, adik, keponakan).

Tantangan yang Dihadapi Sandwich Generation

Generasi sandwich ini rentan terhadap tekanan sehubungan dengan peran mereka sebagai sumber utama penghasilan untuk menghidupi orang tua dan juga anak-anak mereka. Penghasilan bulanan bisa saja habis dipakai untuk membiayai orangtua yang mungkin mulai sakit-sakitan, anak yang butuh biaya sekolah, dan juga kebutuhan untuk diri sendiri dan pasangan.

Merawat anak sekaligus mengurus orang tua, bukanlah perkara mudah. Pekerjaan ini membutuhkan waktu dan energi yang tidak kecil, bahkan bisa menguras emosi. Jangankan untuk menikmati gaya hidup kekinian seperti nongkrong di kedai kopi, nonton bioskop, atau liburan akhir pekan, generasi ini sudah terlalu repot untuk membiayai kebutuhan utamanya. Jadi jangan heran, mereka akan sulit diajak nongkrong sepulang kerja, seperti contoh yang disebutkan pada awal tulisan ini.

Selain problem ekonomi, generasi sandwich juga harus menghadapi masalah kesehatan diri sendiri baik fisik maupun mental. Masalah lain yang bisa saja timbul yaitu terhambatnya perkembangan karier karena ia harus berkorban secara waktu, misalnya resign dari pekerjaan dengan pertimbangan untuk mengurus keluarga atau bisa punya lebih banyak waktu merawat orangtua maupun anak.

Penyebab Timbulnya Sandwich Generation

Bermacam tekanan yang dialami oleh generasi sandwich tersebut bisa terjadi karena orang tua atau generasi tua tidak menyiapkan masa tuanya dengan cermat, baik secara finansial maupun kesehatan. Hal tersebut diakibatkan oleh minimnya pengetahuan orang tua akan perencanaan keuangan. Mereka jarang menyiapkan dana pensiun maupun asuransi kesehatan untuk berjaga-jaga di hari tuanya.

Mata rantai sandwich generation sulit putus ini banyak terjadi di negara dengan nilai-nilai kekerabatan yang kuat, seperti Indonesia. Di masyarakat kita, paham kekeluargaan yang kental masih dianut sebagian besar orang. Anak yang sudah memiliki penghasilan perlu membalas budi orangtua dengan membiayai mereka di hari tua. Hal tersebut dianggap sudah sewajarnya dilakukan, karena tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukan oleh orangtua ketika membesarkan kita.

Baca juga: Solidaritas Tidak Selamanya Positif

Selain faktor finansial dan kutural, tuntutan sosial juga bisa menyebabkan terjadinya sandwich generation ini. Sebagian orang tua ada yang menuntut anak yang telah bekerja untuk segera menikah. Padahal, belum tentu sang anak sudah benar-benar mapan baik secara keuangan maupun mental. Bila sang anak terpaksa menikah meski kondisinya belum siap, hal ini akan menjadi beban di masa mendatang. Apalagi ketika buah hati telah lahir, banyak hal yang juga perlu dihadapinya.

Siasat Memutus Rantai Sandwich Generation

Untuk memutus rantai generasi sandwich, hal pertama yang dibutuhkan adalah mengembangkan kecerdasan finansial. Orang tua maupun anak muda perlu belajar mengenai perencanaan keuangan yang baik. Hal ini memungkinkan mereka bisa mempersiapkan masa depan yang baik.

Investasi

Orang tua perlu melakukan investasi untuk masa depannya, agar dikemudian hari atau di masa tuanya tidak membebani anak. Sementara anak juga dapat melakukan investasi sejak dini untuk persiapan masa depannya. Bermacam instrumen investasi bisa dipilih, seperti rumah atau property, emas, saham, deposito, dan sebagainya.

Asuransi

Kita tidak bisa memprediksi dan menghindari terjadinya musibah dalam kehidupan kita. Namun, kita bisa meminimalkan risiko yang diakibatkannya. Memiliki asuransi sangat penting, agar cashfow keuangan tidak terganggu saat musibah terjadi. Bermacam asuransi bisa dipilih, seperti asuransi jiwa, kesehatan, pendidikan, dan yang lainnya.

Dana Pensiun

Kita tidak selamanya terus bekerja. Ada masanya kita tidak poduktif lagi di masa tua, sehingga tidak bisa bekerja seperti sebelumnya. Agar tetap bisa menikmati masa tua dengan nyaman tanpa menjadi beban orang lain, kita perlu mempersiapkan dana pensiun.

Gaya Hidup Sewajarnya

Seringkali kita lupa, ketika masih muda dan penghasilan besar, kita gemar melakukan hal-hal yang sedang tren. Pergi ke kafe, berlibur ke luar kota, dan sebagainya. Di sisi lain, kita perlu juga memikirkan hari tua. Boleh kita mengikuti tren, namun yang sewajarnya saja. Jangan sampai penghasilan bulanan habis begitu saja hanya gara-gara mengikuti gaya hidup kekinian.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi para pembaca Wuninga.

11 thoughts on “Mengenal Sandwich Generation

  1. Keren nama blognya. Ini dari bahasa jawa kah? Wuninga itu berarti berita atau informasi, ya? Saya ingat kalau ada orang kasih pengumuman di masjid atau pas di pengajian, kadang pakai kata wuninga ini

  2. Baru tahu tentang generasi sandwich ternyata sama halnya dengan hidup dibawah tekanan ya, karena harus membiayai kehidupan dirinya dan orang lain. Wajar saja orang seperti ini terlihat pelit namun tidak sesungguhnya demikian…ada cerita kehidupan yang melatarbelakanginya.

  3. Artikel yang menarik. Saya mungkin sedikit termasuk sandwich generation, Kak.. tapi alhamdulillah tetep bisa nongkrong untuk sekadar ngopi.
    Bagi saya, membantu biaya hidup orang tua itu hasil dari apa yang telah mereka investasikan. Ya, dulu mereka merelakan berbagai kesenangannya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. So, sekarang sudah sewajarnya mereka menikmati apa yang diinvestasikannya. Sebagai obyek inbestasi, kita tentu tak perlu merasa terbebani, karena justru dengan membantu orang tua Tuhan akan membuka pintu-pintu rejeki yang kadang tidak pernah kita duga sebelumnya.

  4. Artikel yang menarik. Saya mungkin sedikit termasuk sandwich generation, Kak.. tapi alhamdulillah tetep bisa nongkrong untuk sekadar ngopi.
    Bagi saya, membantu biaya hidup orang tua itu hasil dari apa yang telah mereka investasikan. Ya, dulu mereka merelakan berbagai kesenangannya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. So, sekarang sudah sewajarnya mereka menikmati apa yang diinvestasikannya. Sebagai obyek investasi, kita tentu tak perlu merasa terbebani, karena justru dengan membantu orang tua Tuhan akan membuka pintu-pintu rejeki yang kadang tidak pernah kita duga sebelumnya.

  5. Poin terakhir, gaya hidup sewajarnya. Setuju sekali. Di masa muda memang sebaiknya nggak selalu fokus untuk menikmati, sebab akan datang masa dimana segalanya nggak seproduktif dulu dan saatnya menikmati hasil hasil yang sudah dikumpulkan sedari muda.

  6. karena itu aku belajar investasi
    supaya nanti ga membebani anakanakku lagi
    secara alhamdulillah dari sisi aku dan istri, ortu kami malah mandiri
    masa kalah sama ortu sendiri

  7. Bisa jadi sih sandwich generation ini sudah jadi kebiasaan turun temurun dalam masyarakat kita. Hanya saja tergantung lagi sih masing-masing keluarga mengaturnya. Kalau dari ajaran orangtuaku, selama masih bisa bekerja ya mereka akan bekerja, nanti kalau sudah tak bisa bekerja, mereka sudah punya tabungan yang memang secara khusus disiapkan untuk menghidupi diri mereka berdua. Lalu ke kami anak-anak juga diajarkan begitu, menyiapkan dana hari tua agar tak merepotkan anak. Cuma tetap saja, kami sebagai anak-anak malah dengan senang hati kasih-kasih terus ke orangtua sih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *