Pandemi dan Momentum Kebangkitan Nasional

Pandemi dan Momentum Kebangkitan Nasional

Pandemi dan Momentum Kebangkitan Nasional – Pandemi Covid-19 hingga hari ini belum usai. Data terkini, tercatat sebanyak 34 juta kasus terjadi di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri jumlah kasus mencapai 291 ribu, dan tren harian belum juga menunjukkan penurunan.

Upaya dari berbagai pihak terus dilakukan untuk menanggulangi pandemi ini. Hampir semua bidang kehidupan memang terdampak oleh Covid-19 ini. Namun kondisi seperti ini seyogyanya tidak membuat kita terpuruk, putus asa, atau menyerah begitu saja. Sebaliknya, inilah saatnya kita sebagai bangsa Indonesia untuk bersatu dan bangkit.

Bangsa kita telah melalui perjalanan sejarah yang cukup panjang. Berbagai peristiwa besar di masa lalu, terus kita peringati hingga saat ini. Seperti Kemerdekaan 17 Agustus, Sumpah Pemuda 28 Oktober, Kebangkitan Nasional 20 Mei, dan lainnya.

Pada tulisan ini, saya tertarik untuk membahas Hari Kebangkitan Nasional  yang diperingati setiap tanggal 20 Mei dan merupakan salah satu tonggak perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tanggal tersebut diambil dari tanggal lahirnya organisasi Budi Utomo (Boedi Oetomo) pada tahun 1908 yang disebut-sebut sebagai organisasi moderen pertama di Indonesia. Budi Utomo sendiri didirikan oleh Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA seperti Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji.

Ada satu hal menarik tentang STOVIA, tempat di mana gagasan untuk mendirikan Budi Utomo muncul. STOVIA sendiri didirikan dengan latar belakang adanya wabah penyakit yang mematikan saat itu. Keadaan yang mungkin mirip dengan apa yang tengah kita alami sekarang ini.

Beberapa waktu yang lalu, sebelum pandemi terjadi, saya sempat berkunjung ke Museum Kebangkitan Nasional di Jalan Abdurrahman Saleh No.26 Jakarta Pusat. Gedung bercat putih khas bangunan pada masa pendudukan Belanda tersebut didirikan pada tahun 1899. Pada bagian depan gedung tertulis “School tit Opleiding van Inlandsche Arsten” (STOVIA) atau Sekolah Dokter Bumiputra. Masa pendidikan ditempuh selama 9 tahun dengan kurikulum yang disesuaikan dengan School Voor Officieren van gezondeid di Utrech. Sehingga, lulusan STOVIA diharapkan sama dengan lulusan sekolah kedokteran yang ada di Eropa.

Sebelumnya STOVIA bernama Sekolah Dokter Jawa yang yang didirikan pada tahun 1851 di Rumah Sakit Militer Weltevreeden (sekarang RSPAD Gatot Soebroto). Sehubungan dengan terus meningkatnya jumlah pelajar, maka dibangunlah gedung STOVIA ini. STOVIA didirikan karena adanya wabah penyakit kulit seperti cacar yang mematikan. Pada saat itu sekitar sepertiga dari warga Indonesia terinfeksi penyakit kulit tersebut. Pelajar yang lulus dari STOVIA tersebut dikirim ke berbagai daerah untuk membantu masyarakat.

Pelajar STOVIA diwajibkan untuk tinggal dalam asrama. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan interaksi para pelajar agar saling mengenal adat istadat suku lain. Dari sinilah rasa persaudaraan di antara penghuni asrama terjalin, sehingga mereka tidak lagi melihat perbedaan etnis, budaya atau agama.

Saat ini, di Museum Kebangkitan Nasional menyimpan diorama yang menggambarkan suasana belajar  di STOVIA. Ada juga peralatan medis tradisional untuk kegiatan praktikum. Sementara di salah satu sisi bangunan, terdapat bangsal yang cukup luas yang di dalamnya terdapat sejumlah ranjang atau tempat tidur untuk pasien.

Ada dua catatan menarik mengenai keberadaan STOVIA (yang selanjutnya melahirkan Budi Utomo) dan relevansinya dengan kondisi saat ini.

Catatan pertama, STOVIA yang didirikan dengan latar belakang adanya wabah penyakit  cacar yang mematikan pada saat itu. Hal tersebut mirip dengan kondisi kita saat ini yang tengah berada di masa pandemi Covid-19. Saya bisa membayangkan bahwa para pelajar STOVIA yang selanjutnya mengabdi untuk menyembuhkan masyarakat yang terserang penyakit, ibarat para tenaga kesehatan yang saat ini berjuang menghadapi Covid-19.

Jumah korban yang tidak sedikit juga terjadi saat wabah cacar melanda negara kita pada akhir abad ke-19. Sebuah sumber menyebutkan di tahun 1871 sebaran wabah cacar meluas. Wilayah yang terkena dampak paling parah yaitu Ternate, Ambon, dan Bali. Di Bali, sebanyak  18 ribu orang dilaporkan meninggal akibat wabah cacar tersebut.

Catatan kedua, yaitu bagaimana interaksi para pelajar STOVIA saat itu. Mereka hidup dalam semangat kebersamaan. Semangat inilah yang perlu terus kita jaga dalam menghadapi setiap permasalahan, termasuk saat kita berjuang bersma-sama menghadapi pandemi Covid-19.

Pandemi yang sedang kita hadapi ini merupakan ujian berat bagi bangsa. Dampaknya terhadap perekonomian juga kita rasakan. Diperlukan kebersamaan, gotong-royong, dan disiplin tinggi untuk mengatasi ujian ini.

Momentum Kebangkitan Nasional tidak pernah lepas dari semangat kebersamaan dan persatuan bangsa. Dengan kebersamaan dan persatuan kita berhasil meraih kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dengan kebersamaan dan persatuan pula kita akan meraih kemenangan atas kondisi yang kita hadapi saat ini.

Sejarah bangsa Indonesia di awal abad ke-20 telah memperlihatkan bahwa adanya wabah penyakit justru menjadi awal peristiwa kebangkitan nasional. Berkaca peristiwa besar ini, kita di masa pandemi ini juga perlu memiliki semangat yang sama. Mari kita bersikap positif, dengan menjadikan pandemi sebagai momentum untuk bangkit!

Baca juga: Solidaritas Tidak Selamanya Positif

15 thoughts on “Pandemi dan Momentum Kebangkitan Nasional

  1. Keren, memang di saat seperti ini kita sebagai bangsa harus bersatu. agar tak memunculkan aktor profokasi. semoga segera berlalu dan kita bisa aktifitas seperti dulu, salam sehat

    1. Belajar dari tulisan ini ternyata latar belakang didirikannya STOVIA karena wabah penyakit cacar. Setidaknya disaat seperti sekarang ini kita harus belajar semangat maju, bersatu dan pantang menyerah dari pendahulu kita. Bahwa pandemi bukan untuk ditangisi atau disesali tetapi harus menciptakan semangat baru semoga kehidupan baru kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.

  2. Pandemi global yang mengungkung negara-negara untuk melokalisir warganya tetap stay di negara masing-masing justru adalah kekuatan Indonesia untuk bangkit dengan memproduksi berbagai barang secara lokal sehingga rakyatnya mampu berdiri sendiri tanpa bantuan asing. Ini adalah moentum kebangkitan untuk semua lapisan masyarakat bahu-membahu menyelamatkan perekonomian dan keutuhan negara.

  3. Aku kok terharu baca artikel ini. Kebayang zaman 1800-an, ada pandemi kita malah bersatu. Zaman sekarang, kita malah berantem…hiks…Jadi deh, pandemi engga selesai-selesai. Mudah-mudahan yg masih mengganggap remeh virus, jadi sadar deh, bahwa pandemi ini memang ada.

  4. Sedihnya sekarang tu para nakes sendiri pada beda pendapat. Akibatnya masyarakat awam seperti saya ini bingung. Harusnya ‘kan mereka memberikan edukasi yang kompak kepada masyarakat awam. Ini malah pada punya pendapat dan cara sendiri-sendiri. Masing-masing mengklaim mereka benar. Aduhhhh… Rasanya semangat kebangkitan nasional ini hanya tinggal semangat di dalam dada. Hiks..

  5. Inilah pentingnya kita belajar sejarah ya mbak..jadi kita bisa belajar bagaimana para pendahulu kita menghadapi masalah. Semangat mengabdi dan rela berkorban yang ditunjukkan harus kita contoh untuk membantu menyelesaikan masalah bersama ini. Minimal disiplin mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Dengan selalu memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah.

  6. Ini pentingnya kita belajar sejarah ya. Jadi kita tahu bagaimana perjuangan pendahulu kita dalam menyelesaikan masalah. Kita bisa mencontoh kegigihan dan pengorbanan mereka juga. Dan bisa kita terapkan di saat sekarang. Misalnya dalam menghadapi pandemi. Masing-masing kita bisa sadar untuk memberi kontribusi sesuai dengan kemampuan kita. Misal untuk masyarakat awam, cukup dengan disiplin memakai masker ketika beraktifitas di luar ruangan.

  7. Semoga kita mampu meneladani para pendiri dalam menghadapi wabah dan menjadi titik balik kebangkitan.

    Pandemi yang saat ini terjadi memang sudah menyusahkan di segala aspek. Tapi kita juga tidak boleh menyerah, menerapkan protokol kesehatan dan menghindari profokasi.

  8. Nah iya, seharusnya kita semua bisa berkaca pada peristiwa besar yang sedang terjadi. Semestinya kita bisa memiliki semangat yang sama dengan para pendahulu kita untuk bersikap positif, dengan menjadikan pandemi sebagai momentum untuk bangkit.

  9. Nambah ilmu lagi nih setelah baca artikel ini, pada dasarnya kita sudah pernah mengalamai permasalahan yang hampir mirip, dan sekarang bagaimana kita semua bersatu untuk tetap bertahan, utuh dan bangkit bersama dimasa pandemi seperti ini.

  10. Semangat kebersamaan ini, kuyakin sudah ada sejak dahulu kala di negeri ini. Gotong royong menanam padi secara bergiliran misalnya, merupakan contoh yang masih dipakai hingga saat ini. Itulah kenapa pelajar STOVIA juga menerapkan hal yang senada.

    Semoga kebersamaan kita semua ini tidak akan lekang oleh waktu ya Kak … Aamiin.

  11. benenan berdoa pandemi segera berakhir biar masayarakat ga bingung lagi mikir hidurp kedepannya

    tapi meski begitu kita sbg manusia cuman bisa berpasrah, semoga apa yang ada skrg bisa jadi titik balik kebangkitan negara kita dan kita sebagai pribadi manusia juga ya kak

  12. Baca artikel ini kayak kembali belajar sejarah seperti waktu SMA. Jadi flashback gitu.

    Dan pandemi ini juga mengingatkan kita, bahwa berjuang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

  13. Sering berkaca dari sejarah yang telah terjadi merupakan salah satu cara ampuh untuk menghadapi masa depan. Semoga kita bisa menghadapi masa pandemi ini dengan bersatu dan tidak terpecah belah. Jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu yang hanya hoax belaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *